Surabaya – Kembali diperpanjangnya masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) wilayah Jawa-Bali, mendapat kritikan keras  dari Ketua Masyarakat Maritim Jawa Timur, Lukman Ladjoni.

“Harusnya ada kepastian sampai kapan PPKM ini. Jangan diperpanjang yang berulang-ulang. Sekarang, sebagai pengusaha kita punya planing ketika PPKM tidak diperpanjang. Eh, ternyata tiba-tiba diperpanjang. Maka, artinya planing kita berubah lagi karena tidak ada kepastian dari pemerintah, rakyat ini sudah jenuh,”  ujarnya, Senin, (6/9).

Lukman menjelaskan, kondisi pelayaran selalu berkaitan dengan produksi. Jika industri melemah, maka pelayaran juga akan melemah. Sebab, muatan dari pelayaran, sebagian besar adalah barang-barang dari hasil industri.

Tidak jauh-jauh, ia pun mencontohkan efek PPKM di lingkungan sehari-hari pada dunia pelayaran. Seperti pada pelayaran kapal fery atau penyeberangan jarak dekat. Selama PPKM diterapkan, penumpang kapal feri wajib melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR). Padahal, harga test PCR cukup mahal dibandingkan harga tiket kapal.

“Harga test PCR-nya jauh lebih mahal ketimbang harga tiket. Akhirnya, kapal feri hanya mengakut truk saja. Mereka kan rugi, karena tidak ada penumpang yang naik,” kata Lukman.

Kondisi seperti ini, lanjut Lukman Ladjoni, harus bisa dipahami pemerintah. Sebagai pejabat di Kadin Jatim, ia juga menyoroti kebijakan PPKM yang berdampak pada puncak kejenuhan masyarakat. Sebab, begitu PPKM diumumkan diperpanjang, masyarakat dan para pelaku UMKM khusunya, merasa dikecewakan.

“Masyarakat sudah menunggu, ternyata diperpanjang lagi. Sedangkan kondisi ekonomi sudah seperti ini. Akhirnya kecewa lagi. Ini kan yang terjadi justru malah pemiskinan, pembodohan dan perusak budaya.”

Pemiskinan, masih kata Lukman, para pedagang kaki lima tidak bisa bekerja leluasa. Padahal, roda perekonomian berjalan dari bawah. Harusnya, pemerintah bisa memberi target kapan PPKM ini harus berakhir.

“Masyarakat berharap keindahan, tetapi yang terjadi malah kesulitan. Akhirnya masyarakat  jembaki kecewa dan jenuh. Lihat saja, PPKM atau tidak PPKM, masyarakat sudah tidak peduli lagi. Kenapa, mereka juga butuh makan. Mereka tidak lagi berharap pada negara,” sambungnya.

Titik kejenuhan masyakat inilah, masih kata Lukman, harus bisa menjadi evaluasi pemerintah, agar masyarakat bisa kembali berdaya dan berkarya.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan telah mengumpankan perpanjangan PPKM per level di Jawa-Bali  hingga 13 September 2021. (Red)