Jatim - Inggris Bahas Detil Rencana LRT Surabaya Barat–Timur

Wakil Gubernur Jatim Emil Elistianto Dardak. (Red)
Wakil Gubernur Jatim Emil Elistianto Dardak. (Red)
banner 728x90

SURABAYA VIRAL — Rencana pembangunan transportasi massal berbasis rel yang menghubungkan wilayah barat hingga timur Surabaya semakin mengerucut.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini tengah melakukan pembahasan intensif dengan pemerintah Inggris terkait pengembangan sistem Light Rail Transit (LRT) di Kota Pahlawan.

Hari ini, Senin (9/3/2026), Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menerima Minister Counsellor for Development dari Kedutaan Besar Inggris, Peter Rajadiston, membahas detail terkait perencanaan proyek ini.

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut komunikasi bilateral antara pemerintah Indonesia dan Inggris, termasuk pembahasan transportasi kereta di Surabaya yang sempat disinggung dalam pertemuan Presiden RI dengan Perdana Menteri Inggris.

“Pak Peter adalah Minister Counselor yang membidangi kebijakan pembangunan dari Kedutaan Besar Inggris, Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO). Salah satu yang menjadi fokus adalah tindak lanjut pembahasan yang sebelumnya juga dibicarakan dalam pertemuan Presiden dengan Perdana Menteri Inggris, termasuk mengenai kereta api Surabaya,” ujar Emil.

Menurut Emil, salah satu rencana yang sedang dimatangkan adalah pengembangan jalur transportasi rel yang selama ini belum terlayani, terutama koridor dari wilayah barat menuju timur Surabaya.

Ia menjelaskan bahwa jalur tersebut merupakan bagian dari studi yang telah melalui proses pembahasan panjang dengan melibatkan konsultan kelas dunia.

“Ini menunjukkan ada rute yang selama ini belum terisi, salah satunya dari barat ke arah timur. Kajian ini sudah melalui proses pembahasan cukup panjang dan mulai mengerucut, tetapi hasil detailnya masih harus dibahas lagi dengan Gubernur dan kementerian terkait,” jelasnya.

Emil mengungkapkan bahwa dari berbagai opsi moda transportasi yang dipertimbangkan, arah pembahasan saat ini mengerucut pada pembangunan LRT karena dinilai lebih sesuai dengan karakter mobilitas masyarakat Surabaya.

“Sejauh ini sudah menjadi rahasia umum bahwa moda yang akan dipakai untuk jalur ini adalah LRT. Moda ini lebih ringkas dan dinilai cocok dengan pola mobilitas di Surabaya,” katanya.

Selain membahas pembangunan jalur baru, Pemprov Jatim juga mempertimbangkan integrasi sistem transportasi yang sudah ada agar layanan publik lebih efektif. Integrasi tersebut mencakup berbagai moda transportasi yang telah beroperasi di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

“Layanan ini harus terintegrasi dengan sistem transportasi yang sudah ada supaya tidak tumpang tindih, tetapi justru saling melengkapi,” ujar Emil.

Di sisi lain, Pemprov Jatim juga mempelajari model pengelolaan transportasi metropolitan seperti yang diterapkan di London melalui lembaga Transport for London (TfL).

Apa yang dikerjalan TfL Inggris dinilai relevan untuk pengelolaan transportasi di Great London yang serupa dengan kawasan aglomerasi Surabaya Raya yang meliputi Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

“Bagaimana aglomerasi transportasi ini bisa dikelola dengan baik seperti di London, itu juga sedang kita pelajari. Karena Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik saling terhubung secara mobilitas,” jelasnya.

Meski demikian, Emil menegaskan proyek transportasi publik seperti kereta tidak mungkin sepenuhnya dikerjakan oleh swasta. Dukungan fiskal pemerintah tetap menjadi faktor penting dalam realisasinya.

Karena itu, pembahasan saat ini juga mencakup kajian kemampuan fiskal pemerintah dalam jangka panjang, baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Tidak ada proyek transportasi publik seperti kereta yang bisa sepenuhnya dibiayai swasta. Harus ada dukungan pemerintah. Karena itu kita juga melihat kondisi fiskal 10 hingga 20 tahun ke depan,” pungkasnya.(Sal/red)

 

banner 300x250

Berita Terkait

banner 300x250