SURABAYA VIRAL – Suasana khusyuk menyelimuti Sekretariat Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Jawa Timur di Surabaya, Selasa (3/3) malam. Ratusan jamaah memadati lokasi untuk mengikuti istighotsah dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Asep Saifuddin Chalim.
Ulama yang akrab disapa Kyai Asep itu dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet dan Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, ia memimpin rangkaian doa, istighotsah, serta sholat hajat yang ditujukan untuk kemaslahatan bangsa dan negara.
Acara itu turut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, sejumlah tokoh agama, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kehadiran para pejabat dan ulama mempertegas bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan momentum spiritual yang sarat pesan kebangsaan.
Dalam suasana khidmat, Kyai Asep, menegaskan bahwa doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk kepentingan sesaat, melainkan demi kemaslahatan Jawa Timur, Indonesia, hingga Mojokerto. Ia menyebut, istighotsah menjadi ikhtiar spiritual untuk mengawal kepemimpinan nasional agar tetap berada di jalur kepentingan rakyat.
“Istighotsah dan doa bersama ini untuk kemaslahatan, untuk kebaikan Jawa Timur, Indonesia, dan Mojokerto. Karena kepala daerah yang kita usung sejalan dengan Pak Prabowo, maka kita punya tanggung jawab moral untuk mengawal sampai tuntas. Harus kita pertanggungjawabkan dengan doa agar beliau selalu terlindungi, dibimbing Allah, dan berhasil dalam setiap upayanya,” ujar Kyai Asep.
Menurutnya, cita-cita besar Indonesia maju, adil, dan makmur hanya dapat terwujud jika pemimpin berpihak kepada rakyat. Ia mengutip kaidah fikih siyasah, tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah, bahwa kebijakan pemimpin harus selalu berorientasi pada kemaslahatan umat.
Kyai Asep juga menyinggung harapan agar Mojokerto dapat menjadi miniatur Indonesia yang maju dan berkeadilan. Namun, ia mengingatkan, seluruh upaya itu membutuhkan pengawalan doa yang terus-menerus.
Dalam tausiyahnya, Kyai Asep turut menyoroti potensi gejolak global yang berdampak pada ekonomi nasional, termasuk kemungkinan kenaikan harga BBM akibat dinamika geopolitik internasional. Ia mengingatkan bahwa subsidi energi menyedot anggaran negara dalam jumlah sangat besar, sehingga setiap kenaikan harga berpotensi menekan APBN.
Ia menyinggung konflik global yang menurutnya berkontribusi terhadap instabilitas tersebut, termasuk ketegangan yang melibatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Kita prihatin dengan kondisi dunia. Prediksi kenaikan BBM ini harus kita doakan agar tidak terjadi. Karena kalau subsidi membengkak, APBN tersedot, rakyat juga yang terdampak,” tegasnya.
Ia juga menyuarakan solidaritas terhadap Palestina. Kyai Asep mengaku bersyukur atas pernyataan utusan Palestina yang menyebut Presiden RI sebagai representasi perjuangan mereka dalam forum-forum perdamaian internasional.
“Saya senang sekali ketika utusan Palestina menyampaikan bahwa Pak Prabowo menjadi representatif suara mereka di forum perdamaian dunia. Palestina tidak mungkin masuk ke forum itu, tapi melalui Indonesia, suara keadilan tetap disuarakan,” katanya.
Bagi Kyai Asep, doa bukan sekadar ritual, melainkan senjata spiritual umat Islam dalam menghadapi ketidakadilan global. Ia menyebut kemarahan terhadap ketidakadilan dunia harus disalurkan secara bermartabat melalui doa dan munajat.
“Kita tidak bisa berbuat banyak dalam politik global. Tapi doa adalah senjata. Dengan doa, kita mengetuk langit agar keadilan ditegakkan,” ujarnya.
Ia pun mengajak jamaah untuk terus mendoakan para pemimpin bangsa agar tetap istiqamah, berani melawan praktik korupsi, menutup tambang ilegal, dan mengembalikan kekayaan negara yang dicuri.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang tegas dan berani mengambil risiko demi kepentingan rakyat luas. “Bukan hanya keselamatan yang kita doakan, tapi agar selalu dibimbing Allah dalam setiap keputusan,” tambahnya.
Istighotsah yang digelar rutin ini menjadi ruang konsolidasi moral sekaligus penguatan komitmen kebangsaan. Di tengah dinamika politik dan ekonomi global, JKSN menegaskan posisinya sebagai elemen umat yang berikhtiar menjaga stabilitas bangsa melalui pendekatan spiritual.
Malam itu, doa-doa dipanjatkan dengan harapan Indonesia tetap kokoh menghadapi tekanan global, harga kebutuhan pokok tetap terkendali, dan kepemimpinan nasional mampu menghadirkan keadilan, bukan hanya bagi rakyat Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia yang tertindas.
Di Surabaya, lantunan istighotsah itu menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk politik dan ketegangan geopolitik, masih ada kekuatan sunyi yang terus bekerja: doa yang dipanjatkan dengan keyakinan, demi negeri yang lebih adil dan bermartabat.(Sal/red)