SURABAYA VIRAL - Forum Komunikasi Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menyebut dipilihnya Akh Muzakki sebagai rektor untuk kedua kalinya tidak ideal, menyusul banyaknya bentuk penolakan dari kelompok civitas akademika dari internal kampus.
"Pelantikan rektor UINSA kali ini memang tidak ideal. Masih banyak penolakan civitas akademika," kata Juru bicara Forum Komunikasi Guru Besar UINSA, Prof. Dr. H. Imam Ghazali Said, dikonfirmasi Rabu (16/9/2026).
Dia juga menilai pelantikan tersebut terkesan terpaksa untuk menyelamatkan UINSA yang hampir 3 bulan terakhir mengalami kelumpuhan administrasi akibat berakhirnya masa jabatan rektor periode 2022 - 2026.
"Menurut saya ini sesuai kaidah ushul Akhofuddhororain. Artinya mengambil keputusan yang dianggap lebih kecil sisi kemadhorotannya. Meski sebenarnya tidak ideal," ujarnya.
Kelompok guru besar menurutnya sudah berupaya berkirim surat agar Kemenag tidak melantik rektor petahana. "Bahkan kami sempat akan menghadap presiden dalam masalah ini," ujarnya.
Namun dinamika elit pasca Muktamar NU ke-35 sepertinya lebih mendominasi kebijakan Kemenag dalam memilih rektor UINSA.
Akh Muzakki menurut dia adalah salah satu tim sukses Menteri Agama Nazarudin Umar yang saat itu akan maju dalam kandidasi ketua umum PBNU dengan berharap dukungan istana.
"Bahkan tim ini sudah bergerak menghimpun dukungan ke daerah-daerah," jelasnya.
Namun dinamika kemudian berubah, ternyata istana mendukung calon lain yakni KH Abdul Hakim Makhfud (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU.
"Karena Akh Muzakki sudah terlanjur dekat dengan Menag meskipun pencalonan gagal, akhirnya dia tetap dilantik," ucapnya.
Gelombang penolakan
Sementara itu, dilantiknya Akh Muzakki disambut gelombang penolakan dari kelompok civitas akademika. Rabu pagi ratusan mahasiswa menggelar aksi di depan kampus UINSA.
Konten-konten medsos bernada penolakan juga mulai muncul hingga surat pemanggilan pemeriksaan Rektor UINSA oleh Kejaksaan Negeri Tanjung Perak mulai beredar di grup-grup wartawan.
Pemanggilan pemeriksaan itu terkait kasus dugaan suap di Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) wilayah IV Jawa Timur.
Saat proses pemilihan rektor bergulir, setidaknya ada ada 13 guru besar yang mendaftar sebagai calon rektor UINSA periode 2026 - 2020. Mereka adalah Prof. Dr. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D.; Prof. Dr. Abdul Chalik, M.Ag.; Prof. Dr. Khoirun Niam, M.Ag.; Prof. Dr. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag.; Prof. Dr. Idri, M.Ag.; Prof. Dr. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.; Prof. Dr. Siti Warjiyati, S.H., M.H.; Prof. Dr. Rubaidi, M.Ag. (Sal/red)