Dari 13 Guru Besar Pendaftar, Mengapa Menag Ngotot Lantik Nama yang Jelas Ditolak Civitas Akademik UINSA?

Foto penolakan rektor UINSA Surabaya. (Red)
Foto penolakan rektor UINSA Surabaya. (Red)
banner 728x90

SURABAYA VIRAL - Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar aksi menolak rektor Akh Muzakki yang baru saja dilantik Menteri Agama, Selasa (15/9/2026) kemarin.

Aksi sempat memanas karena massa merusak dan membakar karangan bunga ucapan selamat pelantikan rektor baru.

Massa mahasiswa terpantau mulai berdatangan sejak pukul 08.00 WIB. Selain berorasi, massa dari berbagai fakultas itu juga membentangkan spanduk bernada protes atas pelantikan Akh Muzakki sebagai rektor untuk kedua kalinya.

Hingga pukul 11.00 massa mendesak masuk ke ruang rektorat utama. Massa mahasiswa membentuk lingkaran untuk mendengarkan masing-masing dari mereka yang ingin menyampaikan aspirasi dan berorasi.

Setidaknya ada 5 point tuntutan mahasiswa, yakni
1. Menolak Akh. Muzakki sebagai Rektor karena kasus hukum dan ketidakmampuan dalam memimpin kampus
2. Kampus harus menjadi tempat yang aman dan harmonis bagi Dosen, Mahasiswa dan Tenaga Kependidikan
3. Mengaudit laporan pertanggungjawaban saudara Akh. Muzakki selaku Rektor UINSA
4. Menuntut Menag untuk bertindak objektif dan memilih Rektor yang terbaik sesuai dengan aspirasi warga UINSA
5. Mendesak kejaksaan untuk menaikkan statusnya menjadikan penyidikan dan menjadikan Muzakki sebagai Tersangka.

Di media sosial, beredar pula ungkapan “UINSA Berduka” serta sejumlah ajakan untuk melakukan aksi, termasuk seruan boikot terhadap aktivitas kampus.

Kritik terhadap pelantikan bahkan dikemas dalam bentuk satire. Salah satu meme menggambarkan Muzakki sedang mencium Menteri Agama dengan tulisan bernada humor, “Makacih Papa, makacih...” Meme tersebut menjadi bagian dari ekspresi kritik warganet terhadap keputusan pengangkatan rektor.

Di kalangan dosen, penolakan disampaikan secara terbuka oleh Dr. Hermanto Jakfar. Ia menyatakan keberatan terhadap pengangkatan kembali Muzakki sebagai rektor.

“Kami para dosen merasa keberatan atas pengangkatan kembali Akh Muzakki. Hal ini karena rektor yang baru dilantik ini diduga melakukan tindak pidana dari pengaduan masyarakat," ujar Hermanto.

Dari kalangan alumni, Ahmad Bajuri, wakil ketua umum Ikatan Alumni UINSA (Ika UINSA), mendesak Menteri Agama mengevaluasi kembali keputusan pengangkatan Muzakki.

“Jika nanti rektor ini diperiksa kejaksaan, ini pasti membuat nama baik UINSA tercoreng,” ujarnya.

Mengapa Kemenag memaksa melantik Akh Muzakki yang jelas-jelas mendapatkan penolakan dari civitas akademik, padahal saat masa pendaftaran dibuka, ada 12 nama guru besar yang mendaftar sebagai calon rektor UINSA periode 2026-2030.

Mereka adalah Prof. Dr. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D.; Prof. Dr. Abdul Chalik, M.Ag.; Prof. Dr. Khoirun Niam, M.Ag.; Prof. Dr. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag.; Prof. Dr. Idri, M.Ag.; Prof. Dr. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.; Prof. Dr. Siti Warjiyati, S.H., M.H.; Prof. Dr. Rubaidi, M.Ag.

Juru bicara Forum Komunikasi Guru Besar UINSA, Prof. Dr. H. Imam Ghazali Said tidak dapat memberikan jawaban pasti, dia hanya menjelaskan kronologi pelantikan yang semuanya masih terkait dengan hajatan Muktamar NU ke-35 di Jombang akhir Agustus 2026 lalu.

Namun dinamika elit pasca Muktamar NU ke-35 sepertinya lebih mendominasi kebijakan Kemenag dalam memilih rektor UINSA.

Akh Muzakki menurut dia adalah salah satu tim sukses Menteri Agama Nazarudin Umar yang saat itu akan maju dalam kandidasi ketua umum PBNU dengan berharap dukungan istana.

"Bahkan tim ini sudah bergerak menghimpun dukungan ke daerah-daerah," jelasnya.

Namun dinamika kemudian berubah, ternyata istana mendukung calon lain yakni KH Abdul Hakim Makhfud (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU.

"Karena Akh Muzakki sudah terlanjur dekat dengan Menag meskipun pencalonan gagal, akhirnya dia tetap dilantik," ucapnya.

Dia menilai, dipilihnya Akh Muzakki sebagai rektor untuk kedua kalinya tidak ideal, menyusul banyaknya bentuk penolakan dari kelompok civitas akademika dari internal kampus.

"Pelantikan rektor UINSA kali ini memang tidak ideal. Masih banyak penolakan civitas akademika," ucapnya.

Dia juga menilai pelantikan tersebut terkesan terpaksa untuk menyelamatkan UINSA yang hampir 3 bulan terakhir mengalami kelumpuhan administrasi akibat berakhirnya masa jabatan rektor periode 2022 - 2026.

"Menurut saya ini sesuai kaidah ushul Akhofuddhororain. Artinya mengambil keputusan yang dianggap lebih kecil sisi kemadhorotannya. Meski sebenarnya tidak ideal," ujarnya.

Kelompok guru besar menurutnya sudah berupaya berkirim surat agar Kemenag tidak melantik rektor petahana. "Bahkan kami sempat akan menghadap presiden dalam masalah ini," ujarnya.

Informasi lain menyebut, sesungguhnya Menteri Agama Nazarudin Umar tidak menghendaki untuk melantik Akh Muzakki, karena situasi UINSA tidak kondusif bahkan menolak Akh Muzakki sebagai rektor lagi untuk periode berikutnya.

Namun karena ada tekanan dari Sekjen Kemenag Kamarudin Amin pada Selasa pagi, dan posisi Akh Muzakki sudah berada di jakarta, akhirnya dilakukan pelantikan.

Saat itu, Sekjen Kemenag meyakinkan civitas akademika menerima dan tidak ada masalah. (Red)

banner 300x250

Berita Terkait

banner 300x250