SURABAYA VIRAL - Kementerian Agama memilih opsi kembali menggelar seleksi calon rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Proses seleksi akan dilakukan lebih cepat agar UINSA segera memiliki rektor definitif.
Pilrek ulang disepakati dalam forum pertemuan civitas akademik UINSA dengan Plt Rektor UINSA Amien Suyitno, dan Inspektur Jenderal Kementerian Agama (Irjen Kemenag) Khairunnas, Jumat (25/9/2026) di Kampus UINSA Surabaya.
Menurut Irjen Kemenag Khairunnas, S
Setiap percepatan atau pemampatan jadwal penjaringan harus didasarkan pada kepatuhan penuh terhadap aturan baku.
"Kita harus memastikan seluruh prosedur berjalan legal dan transparan agar tidak memicu celah hukum atau gugatan yang dapat merugikan institusi maupun Kementerian di masa mendatang," katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (26/9/2026).
Dia tidak menjelaskan target waktu, dia hanya memastikan mekanisme mulai dari pendaftaran, verifikasi berkas, penilaian kualitatif oleh senat, hingga penyerahan rekomendasi ke Kementerian Agama akan dioptimalkan dalam kurun waktu yang lebih singkat tanpa mengurangi ketelitian administrasi.
"Berkas pendaftar calon rektor sebelumnya, kita dapat melakukan evaluasi dan pembaruan resume serta visi-misi. Adapun dokumen pendukung seperti SKCK atau surat keterangan kesehatan yang masa berlakunya masih aktif tidak perlu dibuat baru, sehingga proses verifikasi bisa berjalan jauh lebih cepat dan efisien," jelasnya.
Sekretaris Senat (Demisioner) UINSA, Prof Ali Arifin meminta mekanisme pemeringkatan atau rekapitulasi calon dilakukan secara terbuka dan transparan. "Semua proses khususnya pemeringkatan harus dilakukan secara transparan dan terbuka," katanya.
Akh Muzakki mundur dari Rektor UINSA setelah mendapatkan penolakan dari kelompok civitas akademik. Dilantiknya Muzakki sebagai rektor untuk kedua kalinya menyulut aksi mahasiswa UINSA sepekan terakhir.
Akibatnya, aktifitas akademik di UINSA lumpuh karena semua fasilitas disegel oleh mahasiswa sampai saat ini.
Mahasiswa tetap ngotot tidak akan membuka segel sampai adanya rektor definitif.
"Akan terus kami segel itu gedung rektorat sampai terpilihnya rektor definitif," kata Koordinator Lapangan (Korlap) aksi mahasiswa UINSA, Koko Prakoso.
Ada 8 tuntutan aksi mahasiswa, yakni
1. Mendesak Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dicopot atau mengundurkan diri.
2. Mendesak pimpinan UIN Sunan Ampel Surabaya memberikan pernyataan publik terkait PPID yang baru terbentuk pada 2025. Mahasiswa menyebut selama tiga tahun UINSA mengabaikan mandat UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang mereka kaitkan dengan dugaan korupsi.
3. Mendesak pengusutan kasus Kopertais yang melibatkan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai terlapor.
4. Menuntut klarifikasi dan tenggat waktu terkait keterlambatan pembagian buku, KTM, dan almamater mahasiswa baru.
5. Menuntut pertanggungjawaban atas penerimaan mahasiswa baru yang dinilai terlalu banyak sehingga berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus.
6. Mendesak penghapusan kebijakan jam malam yang dinilai tidak pro terhadap kebutuhan nonakademik mahasiswa.
7. Menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan penentuan UKT mahasiswa baru yang dinilai tidak berpihak kepada mahasiswa menengah ke bawah.
8. Mendesak penghapusan mekanisme peminjaman tempat yang dinilai selalu dipersulit. (Sal/red)