SURABAYA VIRAL - Forum Komunikasi untuk Perubahan (FKUP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mendesak Menteri Agama Nazarudin Umar untuk segera menetapkan dan melantik rektor definitif pengganti Akh Muzakki.
Desakan tersebut dengan pertimbangan kondusifitas di UINSA yang sudah sepekan terakhir lumpuh karena disegel oleh mahasiswa.
"Demi nasib 25 ribu mahasiswa UINSA, kami minta Menag segera menetapkan rektor definitif dari 3 besar hasil seleksi 2026-2030," kata Juru Bicara FKUP UINSA, Dr Imron Rosyadi MH, dikonfirmasi Sabtu (26/9/2026).
Menurut Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UINSA ini, dari tinjauan hukum Menag bisa menerapkan deskresi untuk menetapkan rektor definitif dari 3 besar hasil seleksi 2026-2030.
"Dalam kondisi tertentu dan demi kemaslahatan, deskresi hukum dibenarkan," terangnya.
Dia mengaku tidak tahu siapa calon rektor yang masuk dalam 3 besar rangking teratas. Yang dia tahu saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kementerian Agama dengan Komisi VIII, nama Muzakki tidak masuk dalam 3 besar hasil seleksi.
Namun karena Sekjen Kemenag Kamarudin Amin memaksakan nama Muzakki masuk 3 besar, akhirnya terpaksa dimasukkan dan terpilih menjadi rektor UINSA.
Pemulihan kondusifitas UINSA secara cepat juga salah satu yang disepakati Menteri Agama dengan Komisi VIII saat RDP beberapa hari lalu.
"Komisi VIII memberi waktu 7 hari, namun Menteri Agama berjanji akan menyelesaikan dalam waktu 3 hari," ujarnya.
FKUP UINSA menurut dia sudah memberikan Legal Opinion atau pendapat hukum tentang penetapan rektor definitif UINSA kepada Komisi VIII DPR.
Jumat (25/9/2026) adalah hari ketiga sesuai janji Menteri Agama Nazarudin Umar di hadapan Komisi VIII DPR untuk menyelesaikan masalah kisruh UINSA.
Namun berdasarkan pantauan Viva Jatim Jumat pukul 11.00 WIB, gerbang utama kampus UINSA di Jalan Ahmad Yani masih terlihat disegel. Pun juga gerbang utama kampus 2 di Gunung Anyar Surabaya.
Mundurnya Akh Muzakki sebagai Rektor UINSA periode 2026-2030 menurut dia menyisakan permasalahan hukum tersendiri.
Setelah Muzakki diturunkan, Menag tidak serta merta langsung bisa menunjuk penggantinya dari 3 besar hasil seleksi rektor. Dengan dilantiknya Muzakki sebagai rektor, maka proses seleksi secara hukum sudah dianggap selesai.
Di sisi lain, opsi menggelar kembali pemilihan rektor membutuhkan waktu setidaknya 1 bulan. Apalagi kepengurusan senat universitas sebagai instrumen penting seleksi rektor otomatis sudah selesai setelah turunnya rektor lama.
Satu sisi, mahasiswa tetap ngotot tidak akan membuka segel sampai adanya rektor definitif.
"Akan terus kami segel itu gedung rektorat sampai terpilihnya rektor definitif," kata Koordinator Lapangan (Korlap) aksi mahasiswa UINSA, Koko Prakoso.
Sepekan terakhir, UINSA Surabaya diwarnai gelombang aksi mahasiswa. Ada 8 tuntutan aksi mahasiswa, yakni
1. Mendesak Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dicopot atau mengundurkan diri.
2. Mendesak pimpinan UIN Sunan Ampel Surabaya memberikan pernyataan publik terkait PPID yang baru terbentuk pada 2025. Mahasiswa menyebut selama tiga tahun UINSA mengabaikan mandat UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang mereka kaitkan dengan dugaan korupsi.
3. Mendesak pengusutan kasus Kopertais yang melibatkan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai terlapor.
4. Menuntut klarifikasi dan tenggat waktu terkait keterlambatan pembagian buku, KTM, dan almamater mahasiswa baru.
5. Menuntut pertanggungjawaban atas penerimaan mahasiswa baru yang dinilai terlalu banyak sehingga berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus.
6. Mendesak penghapusan kebijakan jam malam yang dinilai tidak pro terhadap kebutuhan nonakademik mahasiswa.
7. Menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan penentuan UKT mahasiswa baru yang dinilai tidak berpihak kepada mahasiswa menengah ke bawah.
8. Mendesak penghapusan mekanisme peminjaman tempat yang dinilai selalu dipersulit. (Sal/rek)